Jejaring Agripreneur “From Field to Feed: Menghubungkan Petani dan Pasar lewat Jejaring Komunikasi”

Admin | 30 October 2025 | 228 kali

Jejaring Agripreneur “From Field to Feed: Menghubungkan Petani dan Pasar lewat Jejaring Komunikasi”

Kamis 30 Oktober  2025 di Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor (Polbangtan Bogor), Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian melalui Biro Komunikasi dan Layanan Publik melaksanakan kegiatan Jejaring Agripreneur yang bertema “From Field to Feed: Menghubungkan Petani dan Pasar lewat Jejaring Komunikasi” , sebuah program berbagi pengalaman , inspirasi,  serta peluang kerjasama untuk mendukung tumbuhnya wirausaha agribisnis yang inovatif dan berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung dan memperkuat jaringan atau kerjasama antara para pelaku usaha pertanian . 

 

Ada tiga narasumber yang dihadirkan dalam acara tersebut yaitu  Gede Deny Kharisman (Direktur PT Bukitmas Agritech International), Jelsi Natosa/Bu Tani (Key Opinion Leader Bidang Pertanian), Dr. Doni Sahat Tua Manalu (Dosen Sekolah Vokasi IPB University Program Studi Managemen Agribisnis). 

 

Gede Deny Kharisman menceritakan kiat-kiatnya membangun fondasi perusahaan, Benih Tjap Bukitmas, yaitu fokus dan  konsisten, management, serta networking. Dengan ketiga stretegi tersebut, Benih Tjap Bukitmas bisa dikenal dan diterima petani hingga saat ini. Selain itu juga, dipaparkan bahwa aspek pengelolaan keuangan perushaaan sangat penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Tanpa pengelolaan cashflow yang baik, maka operasional perusahaanpun tidak akan berjalan baik.

 

Yang kedua, Kak Jelsi Natosa, atau dikenal di media social dengan nama BU Tani, adalah seorang produsen bawang merah baik untuk bibit bawang maupun bawang untuk konsumsi di Nganjuk Jawa Timur. Bibit bawang yang diproduksi sebagian besar adalah Varietas Tajuk .  Kak Jelsi juga memaparkan bahwa peluang generasi muda untuk bisa sukses di sektor pertanian sangat besar karena pada dasarnya setiap orang butuh makanan yang diperoleh dari hasil pertanian. Kak Jelsi juga menceritakan kisah jatuh bangunnya memulai usaha, khususnya pertanian bawang merah, namun bisa dilewati berkat kerja keras dan kegigihannya. Kini kak Jelsi aktif membagikan pengalamannya bertani di lapangan serta menjual hasil produknya di berbagai platform social media dan E-Commerce. Sungguh sosok anak muda yang perlu dicontoh oleh para petani muda di Indonesia.

 

Narasumber yang ketiga yaitu Bapak Dr. Doni Sahat Tua Manalu, Dosen di IPB University, Sekolah Vokasi, Program Studi Manajemen Agribisnis yang aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat mengajarkan digital marketing pada petani. Beliau mejelaskan secara detail bagaimana dampak penggunaan teknologi informasi untuk membantu para petani kecil agar bisa mendobrak pasar dengan melakukan strategi digital marketing secara efektif. Beliau juga menekankan pentingnya aspek branding dalam memasarkan produk agar lebih mudah diterima dan diingat oleh konsumen. Studi kasus konkret yang pernah beliau lakukan yaitu melakukan pelatihan branding dan digital merketing kepada para pelaku UMKM, khususnya petani kopi di Bogor. Beliau memiliki prinsip bahwa berbagi ilmu adalah pekerjaan mulia yang sangat menyenangkan. Sukses dan sehat selalu Bapak Dr. Doni Sahat Tua Manalu.